07 December 2011

Kehidupan Rumah Tangga Sehari-hari << Belanda 7-16 September 2011

Ini berdasar pengamatan tinggal yang hanya beberapa hari di rumah kost anakku dan di rumah Rurie.
Perbedaannya dengan keluarga di Indonesia yang saya tahu....
tepatnya perbedaannya dengan (keluarga) saya,
ya tentang :
berapa kali memasak dalam sehari? bagaimana bentuk relasi (dengan tamu)? bagaimana kalau ditawari makanan? bagaimana situasi saat memasak dan makan? bagaimana sistem pembuangan sampah? bagaimana tentang pemakaian listrik? bagaimana tentang stok makanan?


Berapa kali memasak dalam sehari ?
Mereka memasak makanan hanya sekali sehari... biasanya tiap pukul 4-5 sore.... untuk makan malam pukul 19.
Istilah ibu kost anakku, makan panas.....
kalau pagi dan siang biasanya mereka bawa roti atau makan di luar.
maka waktu pertama dulu saya diberitahu saat anakku akan kost di situ, ibu kos bilang kalau kost di situ adalah termasuk makan panas 1x... saya baru paham kalau ternyata ini maksudnya

Bandingkan dengan keadaan saya, waktu diawal pernikahan, saat masih tebel jaimnya hehehe...
Saya masak untuk suami, setiap kali mau makan... bukan ngangetin tapi masak makanan yang kadang menunya beda-beda...
capek deh...
sekarang masih mirip tapi saya serahkan saja jika tidak ada waktu, ya catering nya saja yang masak, hehehe...
atau ibu warung aja yg masak saya tinggal beli :p

Bagaimana bentuk relasi (dengan tamu) nya?
Kalau di Indonesia,
sore hari lagi ngerumpi misalnya dengan tetangga, jam 5 "Ups... mau masak makan malam niy"
bisa jadi kita terus mengundang tetangga untuk masak bareng nanti dibagi makanan sedikit hasil masak bersama itu...
tapi kalau di Belanda artinya adalah "sono lu pulang... jangan ganggu gue"
jadi,
mereka sangat menjunjung privacy,
kalau bisa.... acaranya tidak terganggu... hanya kalau diundang maka kita boleh pergi  atau hang around dengan mereka

Pernah ya, si ibu ngajak saya lunch... di supermarket deket situ
di tengah2 perjalanan ke tempat makan itu, aku ketemu anakku sama temennya,
nah kalau saya kan ngajak mereka makan bareng kan... iya nanti saya yang bayar
tapi dengan halus, kita bisa menangkap isyarat, bahwa "yang diajak lunch hanya saya"
si ibu bolak balik bilang ke anakku "kamu ke toko buku dulu aja ya, bisa beli makan siang deket sana..."

Jangan mendadak berkunjung, kita harus telpon dulu
Mereka tidak ingin terganggu dengan hal seperti itu....

Bagaimana kalau ditawari makan?
Perbedaan lain... gini ni...
Kalau berkunjung di Indonesia, dan ada kue di dalam toples.... biasanya tuan rumah akan menyilakan tamu mengambil kue "Sila kan di cicipi"
biasanya dengan mengambilkan toplesnya, dibukakan dan menyorongkan pada tamu agar diambil sesuka hati si tamu... lalu toples di taruh lagi di meja mungkin dengan keadaan tetap terbuka, maksudnya silakan saja kalau mau ambil lagi
kalau di Belanda, bedanya gini...
tuan rumah akan membuka toples, mengambilkan kuenya mungkin di taruh di piring kecil lalu piring di berikan pada tamu, toples ditutup ditaruh di meja
dan yang diambilkan itu harus habis... itu tanda hormat pada mereka
Kalau di sajikan makanan saat berkunjung.... harus dihabiskan
semua ada hitung2annya, hehehe....
saya pernah kesulitan menelan, cheese cake yang di sajikan ibu kos... bukan tidak enak, tapi melebihi kapasitas perut saya... tapi ya harus habis, nanti ibu kos akan ajak bicara ke sana kemari... sembari sesekali minta saya menelan cheese cakenya... kalau sudah habis... ya sudah, acara selesai...

Ini cheesecake yang enak tapi dengan perjuangan saya memakannya,
biasanya saya makan dengan porsi sebesar ini berdua atau bertiga... tapi ini sedirian, ya... butuh waktu lama dan rasanya makan seharian tidak perlu lagi, saking kekenyangan


Bagaimana situasi saat memasak dan makan?
Soal masak memasak....
nah ini saya perhatikan bedanya, dengan saya....
mereka kalau masak, dandan lho... maksudnya mereka mandi dulu rapi dulu baru masak
ibu kos tempat anak saya tinggal itu, kadang pakai sepatu boots masak...

ini hasil curi-curi foto waktu anter ibu kos belanja di supermarket, nah langsung tanpa melepas boots ini, si ibu memasak di dapur.... boots nya gaya, ibu kosnya juga stylish, masakannya enak... jadi di dapur situasinya ya harum parfumnya juga hehehe.... dandan habis deh
katanya niy, alasannya....
karena kadang ditengah-tengah proses memasak, tamunya sudah datang...
jadi mereka siap sekali, dan menurut saya itu bukti menghargai apa yang dikerjakannya...

kalau saya??? pakai daster dengan rol rambut di sana sini.... hehehe...
kelihatan juga kalau saya, masak jadi adalah sudah kebiasaan, ya masak gitu....
sudah seharusnya gitu
kalau dibandingkan... hasil masakannya saya gak kalah sama hasil masakan ibu kos...
tapi memang jadi kelihatan si ibu lebih kuat passion nya gitu....
seperti dinikmati, memasaknya dinikmati...
makannya saja dinikmati betul... hehehe, kan kalau saya ya makan gitu... just dimakan.... telen, abis perkara...
halah...
ini makan panas yang biasa dilakukan di tempat anak saya...
itu ibu kos dan putrinya serta anak sulung saya
lihat, mereka makan dengan pakaian rapi,
meja makan di beri aksen lilin,
ini dilakukan setiap hari lho....
wah kalau saya kok jadi repot ya... hehehe, dasar males....

Perhatikan deh....
kalau di tempat saya, itu meja makan penuh juga dengan cething nasi, mangkuk sayur, piring dengan lauk, piring sambal.... penuh meja makanku...
tapi di sana... mereka sudah siap makan dengan piring yang sudah diambilkan makanannya
sudah duduk tinggal makan... yang mengambilkan biasanya nyonya rumah atau yang memasak tadi,
dan sekali lagi... harus habis... harus

Siapa yang harus memasak?

Tidak ada pembedaan tugas di sana,
laki-laki juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga termasuk masak, cuci baju, cuci piring, bebersih sedot debu, termasuk memersihkan kamar mandi, membersihkan kaca, jendela....
karena kalau minta bantuan orang, bayarnya mahal....
maka saya senang, anak saya di sana bisa membantu ibu kos dan puterinya kalau saat ia pulang kampus, di rumah sedang memasak makan malam
dia mahir mencuci dan memilah perkakas... mana yang bisa masuk dishwasher mana yang tidak bisa sehingga harus dicuci dan dikeringkan secara manual....

Makanya saya jadi tersenyum sendiri,
karena ingat.... dulu pernah ada seorang kenalan bilang, kalau mau cari mantu untuk putrinya dia ingin yang pernah kuliah atau tinggal di luar negeri, karena katanya laki-laki ini tahu dan menghargai tugas ibu rumah tangga
katanya lebih enak diajak 'bersama-sama' menjalani rumah tangga.... hehehe, mungkin ini maksudnya ya..
baiklah... para ibu... untuk mengambil anak saya sebagai menantu, daftar dulu ya, saya manager nya, hihihiiii.....
aaahhh suami saya bukan lelaki yang pernah tinggal dan kuliah di  luar negeri juga menghargai tugas ibu rumah tangga kok.. pizza nya lebih enak dari pizza buatanku :p
seprei dan sarung bantal bayi anak2ku juga di jahitnya.... hehehe... tapi para ibu jangan ambil suami saya sebagai pasangan atau bahkan sebagai menantu, saya jegernya, premannya... awas aja, hahahaha....
saya susah cari suami yang bisa jadi chef dan tailor sekaligus hehehe... pis suamiku... kita damai ya :p

Bagaimana sistem pembuagan sampah di sana ?
Mereka mengandalkan peralatan elektronik...
kalau makan, semua yang diambil dan ditaruh di piring makan harus habis... tidak sisa
tidak ada sisa makanan masuk tempat sampah... kenapa?
karena mereka tidak punya tempat sampah di luar rumah, yang bisa diambilin pemulung seperti di sini..
sistem pengambilan sampahnya teratur...
hari apa untuk ambil sampah barang elektronik, hari apa untuk ambil sampah  kertas, hari apa untuk ambil sampah basah/dedaunan bekas masak dsb....
jadi supaya tidak basi dan menimbulkan bau mendatangkan lalat.... maka tempat sampah di dalam rumah harus sesedikit mungkin ada sisa sampah organik yang bisa membusuk dan bau....
init tempat sampah di rumah Rurie.... besar banget, tempat ibu kos anak saya jauh lebih besar....
kalau di dapur saya setengahnya lebih kecil, lebih cepat penuh memang, jadi setiap pagi saya buang ke tempat sampah di depan rumah
anak-anak saya kalau makan suka pilih2, suka disisihin sayurnya atau gak habis bersih, selama ini gampang saja... dibuang ke tempat sampah di dapur... kalau lupa antar ke depan, dapur jadi bau..... hehehe...

Bagaimana tentang pemakaian listrik?
Listrik mahal... mereka membayar untuk setahun didepan,
kalau irit pemakaian maka nanti diakhir tahun uang mereka akan dikembalikan, tetapi sebaliknya kalau boros tentu mereka juga harus di denda
Dan mereka tergantung pada peralatan elektronik,
untuk mengatasinya mereka sangat disiplin.... kalau tidak digunakan maka lampu akan mati
kadang untuk mengatasinya, mereka menggunakan sensor.... nyala kalau ada gerakan dan akan mati sendiri untuk beberapa waktu tertentu
karena listrik kalau lewat pukul 10 malam harga lebih murah, maka mereka baru menggunakan mesin cuci baju atau mesin cuci piring malam hari.

Jam 10 malam biasanya mesin pencuci piring dinyalakan... dan ditinggalkan tidur
mereka meletakkan mesin cuci piring sedemikian rupa sehingga kalau ada 'kecelakaan' misal ada rembesan air tetap tidak mengganggu penghuni, ngepelnya bisa besok paginya gitu...
Kalau cuci baju.... biasanya mesinnya ditaruh ditempat yang kalau bocor air atau busanya tidak sampai kemana-mana.... dan kalau diperlukan cuci baju dilakukan malam hari,
atau di lakukan pagi hari tetapi pada suatu waktu... seperti di tempat kos, acara cuci baju dilakuan sabtu dan itu cucian baju anak saya selama seminggu....

Maka mereka tidak masak 3x sehari... biaya listriknya mahal... kompor kan listrik, menghaluskan bumbu kan pakai blender dsb.... dan itu lah maka makan panas biasanya cuma 1x sehari
Mungkin suami saya akan kecewa ya, karena dia itu motto nya adalah tidak makan makanan dingin dalam arti kata gak napsu makan makanan diangetin... harus masak, langsung makan... wuuuaaa gak bisa idup nyaman di Belanda tu, hehehehe....

Bagaimana tentang stok makanan?
Di sana... ada basemen, yang isinya barang2 tahan lama, semacam abon, mie instan, makanan kaleng seperti itu...yang akan semakin penuh jika menjelang musim dingin....
tempatnya luas....
kalau saya, kan hanya lemari kecil... karena tidak membiasakan menyetok...
dan saya tinggal deket pasar, warung dan mini mart sehingga kapan aja perlu barang saya bisa ke sana...
nah di Belanda, punya warung kan gak bisa.. mendirikan minimart juga tidak bisa di pemukiman,
semua teratur, ada tempatnya...
keadaan itu menyebabkan gak seenak kalau butuh bisa melangkahkan kaki ke luar rumah ke sebelah beli di tetangga atau kapan perlu beli...
Juga kalau musim dingin.... harga sayur dan buah semakin mahal juga.. jadi bergantung sama stok simpenan makanan agar hidup tidak boros.... karena saat winter harga sayur dan buah meningkat tajam

Jadi sekilas ya itulah perbedaan-perbedaan yang bisa saya rasakan saya hayati selama di sana....

6 comments:

  1. Halo Ibu Pipin,

    Saya betah banget nih baca blog ibu tentang journey-nya ke Belanda..hehe.. Saya juga ada rencana ke sana mungkin tahun depan, mengunjungi teman di sana. Nah, saya mau tanya nih Bu..Kalo di sana custom-nya untuk pergaulan sehari-hari itu gimana ya? Misal, kalo kita pertama kali ketemu orang apakah jabat tangan, atau gimana.. Saya juga mungkin akan mengunjungi orang tuanya di sana..Nah, sopan santunnya anak muda ke orang tua di sana itu gimana sih Bu? Apa sama seperti di Indo? Makasih banget Bu!

    ReplyDelete
  2. hai Maria....
    oooh sama aja kok.. jabat tangan, kadang mereka sendiri yang mau memeluk kita

    yang saya alami saja ya, kalau bertamu ya sebaiknya dandan, baju rapi... hehehe gak kayak saya deh kadang santai banget..
    jadi jangan pakai celana pendek kalau situasinya bertamu, formal...
    kalau makan mereka kurang suka kalau 'kecap' yang orang jawa maksud, adalah sembari makan bunyi gitu mulutnya...
    hhhm... apa lagi ya... seperti etika pergaulan bisa kok Maria... bagaimana? ada lagi yang bisa saya bantu?

    ReplyDelete
  3. Kalau mau kost disana bisa mnt almt lgkp? Utk keponakan yg skrg lg kuliah di twente

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah ya bu saya berikan lewat perbincagnan kita kemarin melalui SMS kan ya...
      semoga ibu berkenan

      Delete