13 September 2010

Kisah Inspiratif 'cabin crew' saya -bag 1-

-sambungan cerita sebelumnya : Cerita tentang 'cabin crew' saya-
Ini kenanganku tentang para asisten atau pembantu rumah tanggaku (istilah trend nya 'cabin crew')
.....
tidak mudah memang mengurusi pembantu rumah tangga yang notabene adalah orang lain,


tapi kalau memang pasrah, kadang kebenaran juga dapat terlihat
seperti saat saya memiliki pembantu rumah tangga yang sampai detik ini masih bekerja di rumah kami
dia adalah anak tukang lontong sayur yang mangkal depan gang rumah
dia tidak menginap, tetapi datang pagi dan pulang sore hari
si pembantu ini, dalam ilmu yang saya pelajari dapat digolongkan memiliki tingkat kecerdasan yang tergolong 'mampu latih'
tidak bisa membaca, apalagi berhitung...
repotnya, ambang pendengarannya rendah, tidak tuli tetapi suara yang berbisik tidak akan didengarnya


begitu menerimanya sebagai pembantu rumah tangga,
saya tahu yang harus saya kerjakan adalah pengawasan melekat, instruksi detil dan sederhana, dan harus konkrit
ada contohnya
saya berharap, kalau dilakukan repetisi tindakan, lama-kelamaan dia tidak perlu membuang energi saya untuk mendampinginya
jadi saya khususkan libur kerja, hanya untuk melakukan training pegawai baru yang spesial ini,
hitung-hitung seperti bagian HRD yang memiliki program Management Trainee
saya bagi pekerjaan berdasarkan aktivitas, saya bekerja bersama dia
jadi kalau mengelap, saya ajarkan dia mengelap apa saja yang bisa di lap
jendela, kaca lemari, lukisan, meja, kursi
kalau membersihkan debu, saya tunjukkan bagian-bagian mana saja yang mungkin berdebu dan yang harus dibersihkannya
tahap per tahap

saya harus tahan dengan sikap rigidnya, kakunya
pada awalnya, dia tidak bisa di sela, kalau sedang mengelap, jangan coba menyuruhnya menjemur pakaian untuk kemudaian kembali lagi ngelap
pasti dia akan 'hang', sistemnya error dan dia akan diam atau berputar-putar tidak tahu harus mengerjakan apa
kalau urutan menyapu adalah dari ruang tamu, ke ruang keluarga baru ke dapur.... jadi kalau begitu dia datang dan disuruh menyapu dapur, dia akan bekerja sesuai program awal, yaitu mulai menyapu dari ruang tamu, ruang keluarga baru ke dapur;
tidak bisa mana yang diperlukan terlebih dahulu tetapi harus sesuai program yang sudah tertanam di benaknya sejak awal...
repot jadinya...

pernah suatu ketika, dia sudah punya sistem yang baku, saya ubah karena akan ada tamu
jadi yang biasanya dia datang lalu mencuci piring kotor baru menyapu dan mengepel, ini saya suruh menyapu dulu,
kebetulan tamu saya datang, jadi saya sibuklah bercengkrama selama lebih kurang 2 jam,
setelah selesai... saya temukan ia terduduk di garasi, tidak mengerjakan apa-apa, cucian piring belum disentuh, apalagi ngepel dan mencuci baju..
waktu saya minta untuk cuci piring dulu, dia diam dan kebingungan
saya juga jadi bingung...
maka akhirnya, seperti me reset komputer yang hang, saya shut down semua program...
dia saya suruh pulang ke rumah, dan saya minta kembali lagi
jadi dia seolah-olah berangkat kerja dan sesampainya di rumah saya, dia langsung cuci piring, menyapu lagi dan meneruskan program kerja yang biasa dia lakukan...
aman... hari itu kembali normal

bagusnya, hebatnya...
dia akan pulang kalau 'program'nya menunjukkan bahwa memang dia sudah selesai bekerja
walaupun dia lelet, atau terhalang makan siang yang lama, atau terhalang dia ketiduran sembari kerja.... dia akan pulang hanya kalau sudah selesai semua rangkaian programnya selesai,
jadi gak peduli apakah itu masih sore atau sudah malam...
susah di paksa untuk pulang, dia akan ngotot untuk menyelesaikan pekerjaan
seneng juga saya, punya pembantu yang 'berdedikasi', hehehe....
tapi orang tuanya kan jadi marah, pikirnya saya paksa dia kerja rodi
nah mulailah...
pernah tanpa kata pengantar, tiba-tiba pembantu saya tidak masuk kerja karena bekerja di rumah orang lain (orang tuanya yang memasukkan ke rumah baru itu)
nah... kesel kan, rasanya ditikam dari belakang (lebay mode on:)
tapi minggu berikutnya masuk lagi ke rumah kami dengan alasan kemarin itu sakit
beberapa kali ternyata pembantu saya itu dipindahkan kerja ke rumah lain, bahkan sampai Bandung...
katanya sih, kerja di rumah saya berat karena sering pulang malam
tapi toh akhirnya kembali lagi kepada kami
sudah capek rupanya mereka...
sudah yakin rupanya mereka kalau masalahnya tidak seperti yang mereka pikirkan
dengan malu hati, akhirnya mereka datang dan langsung bicara kepada saya,
mengakui bahwa kami yang paling sabar dan mengerti anaknya (ciiieeee... ya iya lah :))
saya bilang, makanya kalau saya minta ketemu dan ingin bicara jangan menghindar, kan saya jadi sulit menerangkan keadaannya
bahwa saya tidak pernah menyuruhnya pulang malam, dan saya puji semangatnya bekerja sampai selesai,
akhirnya menyadarkan bahwa memang perlu orangtuanya untuk berkomunikasi dengan saya sebagai majikannya
(maklum, si pembantu sendiri kan sulit merangkai kata-kata, bercerita saja kadang tidak jelas ujung pangkalnya, belum masalah pendengaran kadang membuat frustasi banyak pihak.... bayangkan kalau ada tamu datang ke rumah, dijamin pesan apapun tidak akan sampai dengan selamat, hehehe.... pesan singkat saja sulit dihafalkan apalagi kalau kumplikated dan kumprihensip)

sudah bertahan berapa lama ya dia dengan kami, mungkin 4 sampai 5 tahun termasuk hubungan yang putus nyambung itu (hehehe kayak pacaran aja)
bahkan kami sudah menjadi saksi dari cerita hidupnya,
menikah, melahirkan, meninggalkan suaminya yang ternyata maling, yang sedih dan menangis ketika bercerita suaminya nikah lagi (padahal katanya benci, tapi ya menanangis juga ketika ditinggal)
 ikut sedih juga kita....

kehadirannya juga  secara tidak langsung membantu perkembangan nilai MEMAHAMI -empati- pada anak-anak saya,
jika instruksi anak saya tidak dijalankan dengan benar dan baik oleh pembantu saya ini,
mereka tidak langsung marah pada pembantu,
mereka belajar untuk berpikir ulang, dimana letak kesalahan komunikasi yang terjadi,
mereka jadi lebih sabar, karena kalau mau meminta tolong, harus mendekat dan memaksakan diri untuk berdiri berhadapan, berbicara dengan volume suara yang agak keras dan mimik muka yang jelas, mulut harus bisa terbaca oleh pembantu saya yang kurang pendengarannya ini... dan anak-anak saya harus belajar untuk berkomunikasi dengan kalimat sederhana tidak panjang-panjang...
begitulah,
orang yang tidak tahu akan melihat betapa kami kurang menghormati pembantu saya ini karena bicara dengan keras bahkan kadang berteriak-teriak; sepertinya kami selalu 'marah' terhadap dia... tapi bukan, kami memang harus begitu agar dia mendengar dan paham apa yang dibicarakan
positifnya, kami bisa belajar MENGHARGAI keunikan orang...
terima kasih ya....

No comments:

Post a Comment