30 March 2012

Wisata Bandung ke Toko Kopi Aroma

Ini masih cerita saya pergi bersama-sama teman yang saya kenal dari dunia maya...
yang kebanyakan dari mereka adalah anggota dari Klub Berani Baking (KBB)
setelah ramai dan hingar bingar mencicipi makanan di Kedai Purnama
(silakan baca cerita nya di sini)
kita mengarah menuju Toko Kopi Aroma

Toko Kopi Aroma
jl Banceuy 51, Bandung


Saya pribadi, pergi ke Toko Aroma hari itu, dengan pertanyaan besar di dalam hati (ups... di dalam otak ding),
ya....... gak sopan kalau diomongin, bisa dihukum dipotret sama temen2 ini, hihihiii...
dan gak dikasih ijin ngicipin makanan lagi sama mereka... hehehe
plus gak dikasih bonus bowl cantik milik teman saya Ine Sena,
karena kalau ngomong, saya bisa dikategorikan manusia yang tidak insap, tidak dijalan yang benar, qiqiqiii...
pertanyaan saya.... "Mau ngapain wisata ke toko kopi? Apa nya yang spesial? Kenapa ada sih acara ke sini? Apa gak buang-buang waktu aja kita ke sini?"



waktu teman-teman saya antri beli kopi,
yang jenisnya Moka Arabika dan Robusta itu....
otak saya sekali lagi memberi keyakinan
"Boring.... beli kopi juga bisa sih di toko mana aja, pasar mana aja. Gak ada spesialnya banget niy kunjungan..."
biarlah yang lain antri beli-beli kopi...
saya mah foto-foto saja.... cari kesibukan yang bermakna tentunya...
bermakna untuk saya lebih tepatnya :p

dengan Caroline Atmadja
photo taken by Angela Mulianie



tu kan...
ternyata emang udah gitu aja... nongol ke toko, beli kopi... kluar lagi...
secara saya dan teman2 nyaris mau pulang....

eh ternyata oh ternyata..... ajaibnya hari menjadi lebih indah....

keluarlah pak Widya Pratama, pemilik Toko Kopi Aroma...
langsung kita digeretnya (agak lebay memang penggambarannya) tapi semangat sekali kita digiring dan dipersilakan masuk lebih dalam lagi ke toko itu

dan dari mulutnya, terurailah cerita...
tentang sejarah toko Aroma,
tentang sejarah kopi,
tentang cara mengolahnya,
tentang manfaat kopi.......

saya jadi tertarik...
pak Widya nya sendiri sangat-sangatlah bersahaja,
"Pagi saya tukang kopi, siang saya dosen"


saya jadi hormat sama bapak Widya Pratama ini...
ini sesuai sungguh dengan peribahasa jangan menghakimi buku dengan koper, ups punten...
don't judge a book by its cover :)
beliau dosen di universitas Parahyangan, fakultas Ekonomi,
untuk matakuliah Operation Management dan Entrepreneurship
uang hidupnya sehari-hari diambilnya dari penghasilannya mengajar sebagai dosen,
dan keuntungan dari bisnis toko kopinya ini dialokasikan untuk membantu anak yatim yang kurang mampu
berulang-ulang dalam pertemuan singkatnya dengan saya (cieee saya.... padahal juga dengan segerombolan teman2 saya yang cantik-cantik itu... hihihiii),
saya ulangi... berulang kali keluar dari mulutnya value hidupnya,
yaitu punya integritas yang tinggi, kejujuran dan kesederhanaan

saya jadi heran...
ternyata, dari toko yang kurang menarik ini
(kamyu tu ya...  dengan pikiran sempit kamyu, udah ngejudge ini toko yang membosankan... ck ck ck ck... gak dapet bowl baru tau rasa... )
ternyata toko ini gemanya luar biasa...
kopinya sudah terkenal lho ke mancanegara...

saya pun menjadi takjub dengan toko ini
apalagi dengan pemandangan aneh,
ada sepeda, di pasang di pabriknya...


ternyata dengan sepeda onthel itu dulu ayah pak Widya membangun bisnis toko kopi ini,

kelihatan sentimental...
tapi hal ini yang membuat Pak Widya tetap bersyukur
dan memiliki ikatan yang kuat dengan bisnis ini
nah itu mirip sama saya yang menyimpan baju saat saya siraman 21 tahun yang lalu,
mengingatkan saya, itu saat akan berpisah dari orang tua saya...
sehingga dengan menyimpan baju siraman itu saya juga tetap memiliki ikatan bathin yang kuat dengan bapak ibu saya.... (hehehe... jaka sembung, gak nyambung... biarin deh...)

berulangkali juga kita diberitahu manfaat dari kopi itu,
saya jujur saja ya... gak dengar lengkap
karena saya tertarik hanya dengan kopi Robusta...
karena magpaatnya itu applicable banget buat saya
katanya kalau diabetes (ibu saya kan diabet), dan luka...
lukanya bisa cepat sembuh kalau ditaburi kopi Robusta, gitcuuu...
dan yang terpenting buat saya... ehem ehem...
kata pak Widya.... kopi Robusta itu sangat sesuai untuk suami-istri,
kalau suami diberikan kopi Robusta tanpa gula... maka para istri harus sangat memperhatikan durasi pemberiannya...
artinya jangan biarkan si suami itu sejam sesudahnya tanpa sparring partner... bisa gawat
jadi kita para istri ya harus yang pinter dan taktis dong ya... harus disesuaikan dengan on tidak nya kita
harus dengan perencanaan, dilarang ngawur, ngasih kopi robusta tanpa gula... sejam kemudian malah kitanya udah tidur
nanti kalau suami menjalankan peribahasa tiada rotan akar pun jadi... kita sendiri yang puyeng...
Robusta untuk para istri juga berguna untuk membuat keset...
ini keset dengan pelafalan seperti huruf 'e' dalam kata 'enam'... bukan 'e' dalam kata 'ember'
bukan keset yang welcome tulisannya, tapi...
keset yang lenciiiir... itu maksudnya
ini juga harus taktis,
bayangkan seandainya suami sedang tidak ada di rumah, dinas misalnya keluar kota...
ya kitanya jangan rajin minum kopi Robusta.... ribet sendiri nanti, kalau sampai pintunya rapet pet pet pet... puyeng juga...
mungkin lebih baik konsumsi yang Moka Arabika....
(ini saya justru dapat infonya dari teman saya seorang dokter yang gemar kopi ini... mungkin waktu itu pak Widya sudah menerangkan juga, tapi ya itu tadi... fokus saya lebih ke Robusta, hehehe...)
menurut yang saya dengar Moka Arabika itu khasiatnya mengaktifkan hormon anti aging...
nah ini tentunya bagus untuk para istri yang suaminya dinas entah berapa lama (lebay hehehe...)
kan suami pulang bisa terkejut... kita berubah menjadi lebih muda....
lebih menggairahkan bukan?
hahaha... atau malah ngabur liyat kita lebih cantik ya.... menyesal pulangnya kecepatan, berharap kalau ditinggal lamaan lagi lebih berdaya guna lagi tu kopi... hehehe.... dassssaaarrr  :)

sudah ah,
mari lebih serius lagi mengobservasi keadaan toko kopi ini,
ternyata setelah saya perhatikan...
peralatan toko itu sederhana...


mesin untuk nge-grind dan manggang kopinyajuga  mesin lama, dari jaman baheula
lihat deh di pintu alat pemanggangnya ada tulisan tahunnya...


waduh kurang geser ke kanan niy...
sedang dilema rupanya fotografernya,
antara memotret pintu oven atau yang cantik-cantik itu, hihihiiii...
lho dibelakang sana kok ada bule?? dari Belanda kah dia...
mau ngapain?? ambil oven nya kali ya...
hush... buyar... gak fokus niy... ck ck ck...
kembali ke pembicaraan,
kita sedang membicarakan apa??
oh tentang peralatan warisan Belanda...
hehehe... iya iya... dan ini penampakannya

tulisan di pintu oven, tahun awal dipakainya
courtesy : Rurie van Sark
sekarang kembali ke bule itu...
halah... teuteup... :)
jadi ya...
selama kita tur di toko Aroma,
ternyata banyak juga bule dari mancanegara berkunjung ke situ,
jadi Rurie sempat kembali ke alamnya sesaat ketika ada bule dari Belanda saling berbicara,
Rurie jadi faseh banget berkata-kata..... (Rurie... kalau saya hanya bisa fasih bilang "Duiiii")

courtesy  : Lanny Tjio
pak Widya menerangkannya juga ampuh
bahasa Inggris oke...
bahasa Belanda oke...
wah-wah... sangat menginspirasi ya...

saya juga senang saja melihat para pegawainya masih muda-muda
saya berharap mereka punya visi hidup yang jelas, dan punya komitmen yang tinggi pada pekerjaannya sama seperti pemiliknya komit pada bisnis ini
yaaah secara biasanya anak muda inginnya kerja yang gak fisik, di tempat panas, kotor tapi bling-bling jadi SPG di mal-mal yang sejuk dan biar terciprat harumnya udara mall kan ya... (hayo jangan bawa koper lagi ke pak hakim...)... ya kan itu biasanya.... biasanya begitu....

courtesy : Lanny Tjio
photo taken by Lanny Tjio
sembari beranjak keluar meninggalkan pak Widya Pratama yang sibuk melayani turis-turis,
saya semakin hormat padanya,
benar-benar tidak boleh membawa buku dalam koper ke pak hakim,
don't judge a book by it's koper ups cover....
apalagi setelah saya mendapati piagam penghargaan ini...



saya semakin takjub saja...
Pak Widya... saya doakan bapak sukses ya pak... balancing life...

keluar dari toko ini, saya senang dan gembira
maka foto-foto dijalankan dengan lebih meriah...
auranya keluar gitu... menggambarkan kalau sedang senang, sumringah... qiqiqiiii....

Sherry, Lina, Caroline, Lia, aku, Emma


depan ki-ka : Caroline, aku
belakang ki-ka : Sherry, Emma, Lina, Sofie, Rurie, Ine, Lia

teman-teman, terima kasih ya...
saya senang banget diberi kesempatan untuk mengetahui Toko Kopi Aroma ini...
walau tidak diucapkan, tapi kan saya sudah berburuk sangka sebelumnya,
maafkan daku ya....
jadi boleh ya saya dapet bowl nya?? bagaimana?? *kedip-kedip*

ini lho yang membuat saya jatuh hati sejak pertama kali melihatnya....

courtesy : Rurie van Sark


"mbak Ine... mbak Ine... mbak Ine cantik deh... yaaaa.. yaaaa... yaaaa... please cuplis"
*pasang wajah memelas*

marilah kita akhiri harapan saya akan bowl ini,
dan sekarang menuju ke rumah makan Sumber Hidangan di Braga yuuuk... ada apa sih di sana...





No comments:

Post a Comment